Alur produksinya
Pappu Express bermula dari satu kalimat dan berakhir jadi film yang sudah ditonton jutaan kali, semuanya dibuat di dalam Morphic. Prosesnya melewati delapan tahap, dan satu kebiasaan yang menjaganya tetap on track sederhana saja: selesaikan satu tahap sebelum mulai tahap berikutnya, karena setiap langkah bersandar pada langkah sebelumnya. Berikut cara kami mengerjakannya, lengkap dengan contoh prompt di tiap tahap untuk menunjukkan jenis arahan yang kami berikan.

1.
Skripnya
Semua berawal dari cerita, jadi di situ juga kami memulai. Kami memberikan premisnya ke Copilot dalam satu kalimat dan meminta ia menuliskan cerita lengkapnya. Yang keluar adalah skenario utuh, lengkap dengan babak, adegan, dan urutan aksi per beat, dan skrip itu jadi peta untuk setiap shot yang kami hasilkan belakangan.
Berikan saya skrip lengkap untuk cerita ini:
Seorang pengantin kabur memberi Pappu waktu dua puluh menit untuk mengantarnya ke bandara. Dia tidak bertanya kenapa, ia langsung menggeber becaknya menembus kota seolah kendaraan itu dibuat untuk lepas landas.

2.
Penguncian gaya
Sebelum menggambar satu karakter pun, kami menetapkan tampilannya dulu. Kami menjelaskan dunia yang kami inginkan dan meminta Copilot menghasilkan beberapa frame memakai subjek asal-asalan, jadi kami hanya bereaksi terhadap gayanya saja, tidak ada yang lain. Begitu ada satu dua frame yang terasa pas, itu langsung jadi referensi yang diikuti semua tahap berikutnya.
Hasilkan gambar dalam gaya seni ini:
Gaya animasi 3D stilasi, proporsi berlebihan, tekstur painterly di bentuk volumetrik, warna jenuh dengan sapuan kuas terlihat, mata bulat seperti tinta, rim light hangat, latar bokeh, nuansa animasi India yang hidup, fill cahaya golden hour. Hanya referensi gaya, karakter dan lokasi baru.

3.
Character sheet
Dengan gaya sudah terkunci, kami memasukkan pemerannya. Kami memasukkan kembali style frame tadi sebagai referensi dan meminta character sheet lengkap, karakter yang sama dari beberapa sudut, supaya satu wajah tetap jadi wajah yang sama di setiap shot berikutnya. Makin spesifik detail bentuk tubuh, pakaian, dan hal-hal kecilnya, makin konsisten pula hasil di setiap shot berikutnya.
Hasilkan character sheet seorang penarik becak India kartun 3D stilasi, kepala bulat besar, tubuh kecil, lengan dan kaki kurus, kumis tebal hitam datar, mata bulat seperti tinta, satu gigi emas. Sarung motif polkadot warna saffron, rompi putih bernoda, sorban kain hijau, sandal jepit tidak sepasang. Pose menoleh santai, rim light hangat, jalanan bergaya painterly, tampak depan seluruh badan.

4.
Visual lingkungan
Lokasi bekerja dengan cara yang persis sama: referensi gaya yang sama, subjek yang baru. Kami menjelaskan tiap tempat yang dibutuhkan, warnanya, cahayanya, teksturnya, lalu mengarahkan kembali ke referensi supaya lokasi itu terasa berada di dunia yang sama dengan para karakter. Ini jadi latar tempat karakter bergerak, dan menjaganya tetap memakai referensi yang sama itulah yang membuat hasil editnya terasa seperti satu tempat, bukan sekumpulan gambar yang tidak nyambung.
Gang Old Delhi bergaya lukisan tangan saat golden hour, tekstur sapuan kuas painterly. Bangunan kolonial yang mulai rapuh berwarna mustard, terakota, pink, dan teal, papan nama berhuruf Hindi, kabel listrik yang saling silang, jemuran baju, mural dewa-dewi, kuil dengan bunga marigold, kios makanan yang mengepul. Lampu jalan hangat berpendar melawan bayangan senja yang dingin, bokeh di latar depan, kabut debu yang bercahaya, palet warna jenuh, tampak seperti still film animasi ekspresif, 8K. Pakai gambar 1 sebagai referensi gaya.

5.
Menghasilkan keyframe
Setelah punya pemeran dan dunia, kami membangun keyframe, gambar tunggal yang mendefinisikan tiap shot. Kami melampirkan character sheet dan referensi lokasi sekaligus, lalu menjelaskan momennya: siapa yang ada di frame, di mana posisinya, dan apa yang sedang terjadi. Kami melakukan ini untuk setiap beat sebelum mulai menganimasikan apa pun, jadi begitu mulai menggerakkan sesuatu, kami sudah tahu persis seperti apa tiap shot seharusnya terlihat.
Gambar 1 adalah referensi character sheet. Gambar 2 adalah referensi latar keseluruhan.
Dua karakter di sebuah kios paan India. Karakter kiri: seorang paanwala tua yang ceria, botak dengan topi Gandhi putih, kumis lebat putih bergaya handlebar dan alis tebal putih, kacamata bulat berbingkai kawat, sedang bekerja di balik konternya. Karakter kanan: Pappu yang mencondongkan badan untuk memesan. Cahaya golden hour, gaya animasi painterly, 16:9.

6.
Menganimasikan shot
Di sinilah gambar diam mulai bergerak. Kami memberikan keyframe yang sudah jadi ke Copilot dan menjelaskan gerakan yang kami inginkan, aksinya, timing-nya, gerak kameranya, lalu membiarkannya menghasilkan hasil. Kami selalu meminta beberapa versi untuk tiap shot, karena take terbaik hampir tidak pernah muncul di percobaan pertama. Dari tiap batch, kami pilih versi yang cocok lalu lanjut ke shot berikutnya.
Paman dabba wala mengayuh sepedanya dengan tenang, lalu tiba-tiba Pappu Express melesat masuk frame dari kiri dengan kecepatan mustahil. Waktu melambat, kotak-kotak tiffin melambung dari sepeda dan cepat mendarat kembali dalam urutan yang rapi.
Hasilkan 5 video sekaligus.

7.
Sound design
Sebuah kejaran hanya sebagus suaranya, jadi tahap ini mendapat perhatian penuh. Di Canvas kami menghasilkan musik, sound effect, dan potongan suara yang dibutuhkan. Untuk scoring, kami cukup menjelaskannya dengan kata-kata sederhana, genre, instrumen, tempo, mood-nya, lalu meregenerasinya sampai pas dengan gambar. Suara inilah yang membuat komedinya benar-benar kena.
Instrumental komedi India yang cepat, tabla menonjol di tiap ketukan, melodi sarangi/harmonium yang riang, isian dholak, trill seruling, energi kejaran slapstick, kunci mayor, ~150 BPM, tanpa vokal, playful dan tergesa.

8.
Editing
Akhirnya, semuanya disatukan di Compose. Kami menaruh tiap klip ke timeline, memotongnya, menyusunnya sesuai urutan cerita, lalu meletakkan musik dan efek suara di bawahnya. Tahap terakhir inilah yang mengubah folder berisi generasi terpisah menjadi sesuatu yang benar-benar terasa seperti film, dan tahap ini pantas dikerjakan pelan-pelan.

Tonton film lengkapnya
Itulah seluruh alurnya, dari satu baris ide sampai film pendek yang jadi. Berikut hasilnya. Sudah ditonton lebih dari 11 juta kali dan mendapat 9.000+ suka, dan terus bertambah.

